Sabtu, 17 Desember 2011

Mukadimah Syarah Risalah Ruslaniyah (salah satu Naskah Kitab Tauhid dengan Tinjauan Tasawuf yang Ditemukan di Jungjang Arjawinangun Cirebon)


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.
Hanya kepada Allah memohon pertolongan. Berkata Pemimpin dan Penghulu kita, Guru para guru Islam, Abu Zakaria al-Anshori al-Syafi’i-Semoga Allah Ta’ala melapangkan kematiannya, dan memberi balasan pada orang yang telah menolongnya di dunia dan akhirat. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada (Nabi) Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya semua. Amiin.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.
Segala puji hanya milik Dzat yang menyendiri dengan sifat wahdaniyyah (tunggal sifat, dzat, dan af’al), mengasing dengan sifat-sifat robaniyyah (ketuhanan). Sholawat dan salam semoga terlimpakan pada Nabi (Muhammad) sahabat, keluarga, dan pasukan (umat)nya. Setelah itu, maka sesungguhnya ilmu tauhid itu ilmu yang paling mulia di antara ilmu-ilmu yang lain, bahkan yang termulia. Dari salah satu yang mencukupi dalam pembhasannya adalah ar-Risalah al-Ruslaniyah (Sepucuk Surat dari Ruslan) karangan Imam al-‘Arif billah Ruslan al-Dimasyqi (Damaskus). Semoga Allah bersihkan dosanya dan menjadikan sorga sebagai tempat tinggalnya. Ketika adanya ar-Risalah al-Ruslaniyah adalah sebaik-baik kitab dalam ilmu tauhid yang telah di karang, dan yang sangat berbobot dari semua karangan yang berbobot yang telah di susun, maka aku mohon petunjuk kepada Allah agar aku mampu memberi komentar (syarah) untuk mengurai kalimat-kalimatnya dan mencapi kehendak maksudnya. Dan aku namai komentar (syarah) itu dengan nama fathur rohman (Kemenangan dari Yang Maha Pengasih) sebgai syarah (komentar) atas risalah al-wali Ruslan. Ketahuliah, sesungguhnya ilmu tauhid itu (wajib) di cari, Allah berfirman, “fa’lam annahu laa ilaha illallah” (maka ketahuilah, bahwa tiada Tuhan selain Allah), firman Allah tersebut menetapkan ketiadaan syirik.
Syirik itu dua macam; Dhohir, jali (jelas dan terang), al-Ghozali dan yang lain, telah menjelaskan tentang syirik dhohir dan jali serta menjelaskan bagian-bagianya, dan Bathin, khofi (samar), yaitu pengusaan (akwan-semesta alam) seluruh keadaan pada hati sehingga menghalangi pertolongan dari alam ghaib (Allah swt). Itu menjadikan syirik khofi (syirik samar) jauh dari hadirat suci dengan tanda-tanda pancaindera. Penyusun (Wali Ruslan) telah mengingatkan hal itu dengan kalimatnya; keseluruhanmu, wahai orang yang jauh dzat, sifat, dan fi’ilnya itu syirik khofi (syirik samar). Tempat tumbuhnya itu adalah prasangka dan hayalan. Prasangka dan hayalan itu menumbuhkan yang lainnya, seperti pangkat dan kedudukan yang hilang sirna. Ketika yang lain itu sirna darimu, maka nyata dengan ilmu ilahiyah (ilmu ketuhanan) akan tauhidmu yang menghilangkan dua macam syirik yang menetapi prasangka dan hayal.
Tidak tampak, yaitu (tidak) jelas, tauhidmu bagimu kecuali dengan (cara) kamu keluar dari dirimu (sendiri) dan dari aghyar (yang selain Allah), yaitu dengan pandanganmu pada aghyar (yang selain Allah) semuanya itu dari Allah, Allah-lah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat. Penyandaran amalmu pada dirimu sendiri itu penyandaran pengusahaan, dan penyandaran amalmu pada Allah swt itu sah sebgai penciptaan. Allah-lah yang menciptakan dan kamu-lah yang mengusahakan, untuk di beri pahala atau di siksa.
Sewaktu kamu mampu melepaskan diri dengan keluar dar semua itu, maka tanpak nyata bagimu, sesungguhnya Dia Ta’ala Yang menciptakan maujud (yang berada), bukan dirimu. Ketika kamu tidak menyaksikan selain-Nya Ta’ala, maka kamu telah menunggalkan-Nya dengan senyatanya (haqiqotan). Syuhud (penyaksian) ini terkadang (agak) lama, (akan tetapi) hal itu jarang (terjadi). Dan terkadang (terjadi) bagaikan petir yang menyambar (sekejap). Ketika terbuka nyata bagimu hal itu bagimu, maka kamu (akan) mengerti, sesungguhnya syuhud (kenyataan) mu bagimu itu (suatu) dosa (yang) kamu memohon ampunan darimu. Maksudnya, dari syuhud (kenyataan) mu bagimu dengan melepaskanmu dari semua itu (akan) terbuka bagimu ilmu tauhid, tauhid dzati, tauhid sifati, dan tauhid fi’li.
Saat kamu temukan satu warna (macam) dari tauhid itu nyata syirik bagimu dalam perlawanannya dari yang menyerupai-Nya kepada makhluk, itu makom pisah, maka kamu akan temukan pada setiap saat dan masa, bahkan setiap nafas (suatu) tauhid, bahwa sesungguhnya Dia Yang Maha Membuat Yang Maha Ada, dan iman, maksudnya membenarkan hal itu hingga sampai menjadi sempurna keyakinanmu. Dan ketika kamu naik dari makom faroq (makom pisah) pada makom jama’  (makom bareng), maka (semakin) bertambahlah tauhid dan imanmu, sebagaimana perkataan Wali Ruslan:
Ketika kamu keluar, dirimu, dari memandang diri, maksudnya, dari pandanganmu pada tauhidmu. Dalam naskah lain, minhum (dari mereka). Maksudnya dari semua makhluk, maka (semakin) bertambahlah imanmu. Maksudnya pembenaranmu dalam makom kasyaf (makom terbuka) dan mu’ayanah (makom nyata), karena keluar dari salah satu dua yang berlawanan itu masuk pada yang lainnya. Dan ketika kamu keluar dari dirimu, maka bertambahlah keykinanmu. Dalm satu naskah yang lain, qowiyyu yaqinuka, kuatnya yakinmu, dengan sifat wahdaniyyah (sifat ketunggalan Allah), karena masalah yang berada padamu itu lebih sempurna dari tu di lain dirimu. Semua ini adalah martabat al-shidiqin (martabat orang-orang yang benar).  


*dialihaksarakan oleh Muhamad Mukhtar Zaedin, Ketua Bidang Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon.










3 komentar:

Ragadiyem mengatakan...

mantab Kg mukhtar..........salam Rahayu _/\_

Ragadiyem mengatakan...

diantos dirorompok sim kuring...http://www.dijatisunda.suryajaticonsult.co.cc

PUSAT NASKAH KLASIK CIREBON mengatakan...

***Akang Rusli,,,heheheeeeee nanti aku tengok kesana. Trimakasih atas kunjungannya dan Salam Rahayu,,,